Home / bursa saham / Weekly View

Weekly View

written by John Veter

Pasar Amerika Serikat memberikan respon positif yang sangat cepat ketika Trump dengan pongahnya mengumumkan akan memberikan informasi terkait reformasi pajak secara besar-besaran di negeri Paman Sam. Para pelaku pasar pun berspekulasi bahwa Trump akan memenuhi janji kampanyenya untuk menurunkan pajak korporasi dan kalangan menengah keatas sehingga pasar saham pun bergerak mendahului pemotongan pajak tersebut. Dari Indonesia minggu ini kita akan berhadapan dengan event pilkada serentak di seluruh wilayah Indonesia dengan kestabilan politik menjadi kata kunci yang ditunggu oleh para investor. Masih dari dalam negeri kami juga melihat kemungkinan pemerintah akan melakukan perubahan pada asumsi APBN tahun 2017 sehubungan dengan beberapa fakta dilapangan yang relatif jauh dari perkiraan semula. Beberapa fakta yang relatif berbeda diantaranya adalah harga komoditas dunia yang relatif lebih baik dari perkiraan serta kemenangan Trump.

KEBIJAKAN PAJAK TRUMP

Laporan dari Moody sekitar tahun 2014 memperlihatkan ada sekitar USD 1,3 Trilyun cash yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan Amerika diluar sektor finansial yang ditaruh di negara-negara surga pajak. Adapun kondisi ini terjadi karena pendapatan dari perusahaan-perusahaan tersebut diluar negeri jika ingin dimasukkan ke dalam negeri harus dikenai pajak hingga 35%. Sebuah nilai yang relatif terlalu besar bahkan bagi kita ukuran Indonesia.

Kami mencatat dari sekitar USD 1,3 Trilyun tersebut ada sekitar USD 500 Milyar dimiliki oleh 5 perusahaan teknologi Amerika yaitu peringkat pertama Apple, diikuti oleh Microsoft, Google, Cico, dan Oracle. Kepemilikan dana cash hingga USD 500 milyar, atau hampir setara dengan GDP Indonesia selama setahun ini, tentu mengundang pertanyaan tersendiri yaitu mengapa sedemikian senangnya mereka menyimpan uang? Pertanyaan ini menjadi penting diluar dari kebijakan Trump yang akan ditempuh terkait penurunan pajak bagi korporat di Amerika Serikat.

Kami sendiri berpandangan besarnya nilai cash yang dimiliki oleh kelima perusahaan sektor teknologi tersebut terjadi tidak lain karena dunia teknologi dihadapkan pada situasi minim inovasi. Hilangnya inovasi yang sejatinya adalah bahan bakar dari sistem ekonomi kapitalisme dapat kita lihat dari peralatan sehari-hari yang kita gunakan seperti Handphone. Disadari maupun tidak dunia rupanya fitur, kelengkapan, ataupun tampilan dari peralatan handphone yang kita miliki saat ini relatif tidak terlalu mengalami perubahan selama 5 tahun terakhir. Memang beberapa fitur relatiff lebih cepat tetapi tidak menjadi sebuah terobosan sebagaimana kemunculan Blackberry di masa lalu yang mengubur kedigdayaan Nokia, atau kisah Apple yang memperkenalkan Ipad di masa lalu.

Ketiadaan inovasi ini sendiri kami nilai tidak lepas dari ketidakpastian kondisi ekonomi dunia pasca krisis tahun 2008 lalu sehingga perusahaan lebih suka untuk menyimpan cash daripada menghabiskan uangnya untuk riset ataupun pengembangan produk baru. Kondisi diatas masih lebih diperparah dengan kecenderungan penguatan nilai tukar USD.

Kami melihat keadaan diatas akan relatif berbalik pasca pengumuman Trump untuk penurunan pajak. Dalam jangka menengah panjang nilai USD kami perkirakan akan cenderung melemah sehingga mengundang mereka yang memegang USD untuk membelanjakan uangnya. Indikasi pelemahan dari USD kami nilai akan didominasi oleh berita inflasi yang cenderung naik, pertumbuhan ekonomi yang membaik, serta neraca perdagangan yang tetap akan negatif bagi Amerika Serikat. Dengan berbaliknya pandangan pelaku industri terutama sektor teknologi yang saat ini menyimpan uang cash untuk beralih pada pengembangan produk serta inovasi maka kapitalisme dunia dapat menjadi tumbuh.

Amerika Serikat sendiri bukan kali pertama melakukan pemotongan pajak untuk mengundang uang masuk kembali ke negaranya. DI tahun 2004 presiden Bush pernah melakukannya dan berhasil membawa masuk sekitar USD 312 Milyar. Kita ketahui bersama setelah keberhasilan program tersebut ekonomi dunia relatif berakselerasi terutama dengan didukung oleh beberapa inovasi dari dunia teknologi informasi. Dalam jangka pendek kembalinya dana ke Amerika Serikat tidak akan berpengaruh secara besar mengingat uang cash yang disimpan oleh perusahaan-perusahaan tersebut sudah dalam bentuk USD.

Pasar saham sendiri khususnya di Amerika Serikat akan relatif diuntungkan dengan kebijakan pengurangan pajak apalagi jika diterapkan pada pengurangan pajak repatriasi dana. Dari pengalaman tahun 2004 nilai uang yang direpatriasi sekitar 80% digunakan untuk melakukan buyback saham ataupun untuk peningkatan opsi saham bagi para eksekutif. Sisanya baru digunakan untuk penambahan kapasitas produksi. Meskipun terlihat buruk tetapi pembelian kembali saham oleh perusahaan akan menyediakan likuiditas di pasar keuangan dan meningkatkan daya beli baik di Amerika Serikat maupun dunia. Inilah sisi positifnya walaupun jika kita belajar dari kejadian tahun 2004 lalu dimana kemudian uang yang datang menjadi bomerang karena digunakan untuk pembiayaan berlebihan pada masyarakat yang tidak mampu secara finansial sehingga tercipta krisis subprime mortgage.

PERUBAHAN ASUMSI

Akhir minggu lalu Presiden Jokowi melakukan rapat dengan kabinetnya untuk membahas terkait beberapa asumsi yang mungkin saja berubah mengikuti fakta di lapangan. Beberapa perubahan yang mengemuka diantaranya adalah harga komoditas dunia yang cenderung diatas perkiraan APBN 2017. Kami melakukan skenario dengan asumsi harga saat ini dikurangi 15% dan kami dapati pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2017 bisa tumbuh diatas perkiraan setidaknya hingga 5,5% pada tahun 2017. Perbaikan ini terjadi jika harga komoditas dunia berfluktuasi tidak lebih dari 15% sehingga menjadi indikasi positif bagi daya beli masyarakat khususnya di daerah-daerah penghasil komoditas.

Dari sisi kepastian investasi Indonesia besar kemungkinan akan meraih investment grade pada semester kedua tahun 2017 dari S&P. Tentu saja keamanan dan kestabilan politik pada pilkada di medio Februari ini akan menjadi salah satu penentu. Kami sebagai pihak yang mengikuti perkembangan situasi terakhir dari dalam negeri melihat dengan sangat optimis bahwa pilkada 2017 akan berlangsung dengan aman dan damai sebagaimana harapan kita bersama.

Untuk pasar saham minggu ini kami melihat saham-saham sektor konstruksi yang masih undervalue dari level wajarnya. PTPP, WIKA, dan WSKT adalah pilihan kami. IHSG sendiri kami prediksi akan bergerak dalam suasana menguat sepanjang minggu ini.

Demikian beberapa ulasan kami dan selamat bertransaksi.

About admin

Check Also

News BKSL 25 April 2017

Good News BKSL Boss BKSL Bebas Bersyarat Stockbit.com – Boss Sentul akan segera menghirup udara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *